History of Guru Nanak Sikh Temple (Tanjung Priok Gurdwara)

By Sardar Mohindar Singh Gill

Alfred Holt and Company, trading as Blue Funnel Line, was a UK shipping company that was founded in 1866 and operated merchant ships for 122 years. It was one of the UK’s largest ship owning and operating companies. This company also operated in the Malaya region of Singapore-Malaysia-Indonesia. It operated in Jakarta at the Tanjung Priok harbor during the 1920s. There were around 20 security workers working for this company at the harbor and all of them were Sikhs.

In 1920s, the Sikhs from the company and also other families in Jakarta gathered every Sunday at the company quarters for Kirtan and Langgar. In 1925, these families decided to purchase a piece of land approximately 500 m2at Jl. Jepara No. 4, Tanjung Priok.

Money was collected from donation of the Sikh families that were living in Jakarta during those times and approximately 500 Guilder (Old Dutch Curency) was collected to purchase and build this first Gurdwara in Jakarta. The money was collected during Vasakhi celebration on 13th April 1925 and the first foundation for building was laid on 1st May 1925.

This holy shrine was named Guru Nanak Sikh Temple. The foundation of this Gurdwara was first build using wood and logs. The first President of this Gurdwara was Sardar Pratap Singh Ghali. The members of the committee elected a new Gurdwara President every 2 or 3 years.

The founding fathers of this Gurdwara consisted of 19 people, as follow

1.S. Pratap SinghGhal Kalan (Moga)
2.S. Dasaunda SinghUdho Nangal (Amritsar)
3.S. Gujar SinghHandiyaya (Patiala)
4.S. Hari SinghCande (Ludhiana)
5.S. Hazura SinghKamal Pura (Ludhiana)
6.S. Basant SinghGalab (Ludhiana)
7.S. Sajan SinghGhal Kalan (Ferozpore)
8.S. Lakha SinghChand Baja (Faridkot)
9.S. Roor SinghRaooke (Ferozpore)
10.S. Sucha SinghChanieke (Gurdaspur)
11.S. Sunder SinghDadewal (Amritsar)
12.S Dalip SinghMoga (Ferozpore)
13.Buthe KhanKler (Ludhiana)
14.Chunilal PanditBethewind (Amritsar)
15.S. Ujagar SinghKhakh (Amritsar)
16.Muhammad BakshFatehabad (Amritsar)
17.Din MuhammadFatehabad (Amritsar)
18.Badawa MarasiUdho Nanggal (Amritsar)
19.Fajukhan JulahaNushera Punuha (Amritsar)

In 1933, this Gurdwara was renovated to accommodate more people where construction was done with cement and bricks to fortify the old structure. The cost for this new construction was approximately around 3000 Guilder.

This Gurdwara continued to serve Langgar and also annual Kirtan weekly without fail throughout the Dutch and also Japanese army occupation in Indonesia. Even during the Second World War, many people fled the country but Seva in the Gurdwara continued as usual.

As there were no any other worship temples or Gurdwara in Jakarta during that time, so all Indian families, not only Punjabis but also Gujarati, Sindhis and others would gather at Tanjung Priok Gurdwara during weekly kirtan and langgar. This carried on until the 1950s.

In 1995, the government decided to expand the harbour area and many buildings and also private own land were acquitted by the government including the Gurdwara. The Gurdwara was then relocated to a new location at Jl. Melur No. 8, located just few kilometres from the old Gurdwara. This new land was bigger in size measuring approximately 2000 m2.

This Gurdwara building was officially opened on 14 April 1999 in celebration of 300 years of Vaisakhi. The opening ceremony was conducted by the Religious Affairs Minister of Indonesia,Prof. Drs. H.A. Malik Fajar Msc and His Excellency Ambassador of India for Indonesia

Sejarah Guru Nanak Sikh Temple (Gurdwara Tanjung Priok)

ditulis oleh Sardar Mohindar Singh Gill

Alfred Holt and Company, yang beroperasi dengan nama Blue Funnel Line, adalah sebuah perusahaan pelayaran asal Inggris yang didirikan pada tahun 1866 dan mengoperasikan kapal niaga selama 122 tahun. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan pemilik dan operator kapal terbesar di Inggris. Perusahaan ini juga beroperasi di wilayah Malaya yang meliputi Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Di Jakarta, perusahaan ini beroperasi di Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1920-an. Terdapat sekitar 20 pekerja keamanan yang bekerja untuk perusahaan ini di pelabuhan tersebut, dan semuanya adalah orang Sikh.

Pada tahun 1920-an, para pekerja Sikh dari perusahaan tersebut serta keluarga Sikh lainnya di Jakarta berkumpul setiap hari Minggu di tempat tinggal perusahaan untuk melakukan Kirtan dan Langgar. Pada tahun 1925, keluarga-keluarga ini memutuskan untuk membeli sebidang tanah seluas kurang lebih 500 m² di Jalan Jepara No. 4, Tanjung Priok.

Dana dikumpulkan dari sumbangan keluarga-keluarga Sikh yang tinggal di Jakarta pada masa itu, dan sekitar 500 gulden (mata uang Belanda lama) berhasil dikumpulkan untuk membeli tanah dan membangun Gurdwara pertama di Jakarta. Dana tersebut dikumpulkan saat perayaan Vaisakhi pada tanggal 13 April 1925, dan peletakan batu pertama pembangunan dilakukan pada tanggal 1 Mei 1925.

Tempat suci ini diberi nama Guru Nanak Sikh Temple. Bangunan awal Gurdwara ini pertama kali didirikan menggunakan kayu dan balok kayu. Presiden pertama Gurdwara ini adalah Sardar Pratap Singh Ghali. Para anggota komite kemudian memilih Presiden Gurdwara yang baru setiap 2 atau 3 tahun sekali.

Para pendiri Gurdwara ini terdiri dari 19 orang, sebagai berikut :

1.S. Pratap SinghGhal Kalan (Moga)
2.S. Dasaunda SinghUdho Nangal (Amritsar)
3.S. Gujar SinghHandiyaya (Patiala)
4.S. Hari SinghCande (Ludhiana)
5.S. Hazura SinghKamal Pura (Ludhiana)
6.S. Basant SinghGalab (Ludhiana)
7.S. Sajan SinghGhal Kalan (Ferozpore)
8.S. Lakha SinghChand Baja (Faridkot)
9.S. Roor SinghRaooke (Ferozpore)
10.S. Sucha SinghChanieke (Gurdaspur)
11.S. Sunder SinghDadewal (Amritsar)
12.S Dalip SinghMoga (Ferozpore)
13.Buthe KhanKler (Ludhiana)
14.Chunilal PanditBethewind (Amritsar)
15.S. Ujagar SinghKhakh (Amritsar)
16.Muhammad BakshFatehabad (Amritsar)
17.Din MuhammadFatehabad (Amritsar)
18.Badawa MarasiUdho Nanggal (Amritsar)
19.Fajukhan JulahaNushera Punuha (Amritsar)

Pada tahun 1933, Gurdwara ini direnovasi untuk menampung lebih banyak orang, dengan pembangunan menggunakan semen dan batu bata guna memperkuat struktur lama. Biaya pembangunan baru ini diperkirakan sekitar 3.000 gulden.

Gurdwara ini terus melayani Langgar serta Kirtan mingguan dan tahunan tanpa pernah terhenti, baik pada masa penjajahan Belanda maupun pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Bahkan selama Perang Dunia Kedua, ketika banyak orang meninggalkan negara ini, kegiatan Seva di Gurdwara tetap berlangsung seperti biasa.

Karena pada masa itu tidak ada tempat ibadah atau Gurdwara lain di Jakarta, maka semua keluarga India—tidak hanya orang Punjabi, tetapi juga Gujarati, Sindhi, dan lainnya—berkumpul di Gurdwara Tanjung Priok untuk mengikuti Kirtan mingguan dan Langgar. Tradisi ini berlanjut hingga tahun 1950-an.

Pada tahun 1995, pemerintah memutuskan untuk memperluas kawasan pelabuhan, sehingga banyak bangunan dan tanah milik pribadi diambil alih oleh pemerintah, termasuk Gurdwara tersebut. Gurdwara kemudian dipindahkan ke lokasi baru di Jalan Melur No. 8, yang terletak beberapa kilometer dari lokasi Gurdwara lama. Lahan baru ini memiliki ukuran yang lebih besar, yaitu sekitar 2.000 m².

Bangunan Gurdwara ini secara resmi dibuka pada tanggal 14 April 1999 dalam rangka memperingati 300 tahun perayaan Vaisakhi. Upacara peresmian dilakukan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Drs. H.A. Malik Fajar, M.Sc., serta Duta Besar India untuk Indonesia.